Senin, 10 Maret 2014

ARTWORK - Death Gun "UNSKETCHEVIL"

Death Gun - Unsketchevil, DNSPTR

The Philosphy:
Mengapa beberapa seniman artwork, lukis, atau bahkan band selalu di sangkut pautkan dengan beberapa elemen Satanism? Beberapa bukti dari gambar ini adalah salah satu media yang terlihat seperti konspirasi jika dilihat sekilas mata, tetapi makna mendalam nya adalah menggambarkan kehidupan yang bebas dan selalu memberontak untuk lepas dari segala ikatan.
CrossOver                  : Kebebasan dalam melakukan hal
M16                            : Perlawanan
Perban yang lepas     : Melepaskan diri dari ikatan norma yang ada.

Jadi tidak ada sama sekali sangkut pautnya dengan konspirasi satanism yang sering di ucapkan oleh mulut-mulut kotor.
Gambar tersebut mewakilkan sifat anak-anak muda yang sedang menggarang, itulah mereka.

Selasa, 04 Maret 2014

The Deal of a Cowboy - Kematian Jack Loarde 2#


-Kematian Jack Loarde 2#-
Tumpukan batu bukan jadi masalah baginya, ranting-ranting sudah tidak terasa didempal kakinya, sudah tidak sama sekali menghiraukan darah yang mengalir dikakinya. Itu terasa menyedihkan bagiku, ketika aku dalam rahimnya dan dia berlari sekencang-kencangnya untuk melarikan diri dari dukun yang kejam itu. Ibuku masih hidup, ibuku masih berlari kencang membawaku diperutnya. Dengan menggunakan gaun putih yang sudah lusuh terciprat darah dan terlumuri tanah disekitar gaunnya, sudah tidak terlihat seperti keindahan diawal ibuku memakainya. Menangis lah dirinya namun rasa takutnya membuat dia tidak boleh lemah, dia harus tetap menyelamatkan dirinya, terutama menyelamatkan diriku yang ada dalam rahimnya.
Cukup jauh dari perkampungan dia berlari semakin melemah, dia berlari sambil merasakan kesakitan karena usia kandunganku sudah cukup tua. Entah apa yang akan terjadi dipikirannya, hanyalah ingin tetap hidup yang terngiang dalam benaknya, tak sama sekali ingin melakukan hal yang lainnya. Antara kematian dengan bertahan hidup sangatlah berbanding tipis. Mungkin saja ibuku lelah dan berpengaruh terhadap kandungannya, aku pun langsung kembali menutup usiia dalam kandungannya, ataupun dapat bertahan hidup dalam kesendirian tanpa keluarga yang ternyata sudah punah.
Duduk lah dia disebuah bukit dekat pohon yang sudah mati, hanya bersisakan dahan dan rantingnya. Merasakan mual bukan hal yang biasa saat memiliki kandungan, saat itu dia merasakan mual yang luar biasa, biasanya bisa tertahankan akan tetapi pada saat itu dia sama tidak bisa sama sekali menahan rasa mualnya, kemungkinan aku akan lahir pada saat itu, tetapi ibuku tidak ingin dia melahirkan ku pada saat itu, bukan karena keadaannya sedang dalam bahaya, tetapi dia tidak sama sekali mengerti tentang melahirkan anak, karena aku adalah anak pertamanya.
Ternyata benar, darah sudah mengalir dikakinya, rasa sakit mulai terasa disekujur tubuh ibuku, jika aku bisa berterimakasih, aku akan berterimakasih sebelumnya kepada dirinya pada saat aku dalam kandungan. Dan saat itu aku benar-benar akan lahir kedunia.
Ibuku sudah tidak tahan lagi, dan disamping itupun dia memikirkan bagaimana para dukun itu berhasil menemukan ibuku yang sudah tidak memiliki tenaga untuk berlari kembali.
Entah bagaimana ibuku dapat melahirkan ku, tetapi aku berhasil lahir dan ibuku sudah tidak bernyawa karena kekurangan darah yang cukup banyak.
Taklama kemudian setelah ibuku menutupkan matanya, para dukun berhasil menemukan kita, dan aku sedang menangis saat itu. Jack menghampiriku, dan menggendongku dengan bahagia. Aku mungkin akan dibunuhnya saat itu, tapi entah kenapa aku malah dibawa pergi olehnya.
****
Aku dibawa ketempat yang cukup gelap, beberapa dukun berdiri memakai jubah hitam, sepertinya akan dilakukan sebuah ritual yang besar oleh mereka, entah aku pun tidak mengerti saat itu karena aku baru saja lahir dan masih berlumuran darah ibuku. Apapun saat itu, aku pasti merasakan kesedihan yang cukup dalam karena pada saat aku lahir dihari itulah kedua orang tua ku meninggalkanku. Mereka yang berada disekelilingku bukanlah orang-orang yang baik, aku tidak bisa melawan mereka, aku tidak mengerti dunia saat itu.
“Bukankah ini hal yang bagus?.” Jack Loarde berkata kepada salah satu tetua mereka disitu, Lewis Rutterdvijck.
“Apa yang akan kau perbuat dengan makhluk tak berdosa itu?.” Tanggap seorang Lewis.
“Entah apapun itu, aku akan melakukan sebuah ritual besar kepada dewa kita.”
“Kau akan memberikan anak itu kepada dewa kita?.” Lewis mulai tertarik dengan pembicaraan Jack.
“Ayo kita lakukan!.”
Berkumpul lah para dukun tersebut mengelilingi aku yang sedang digeletakkan diatas tanah berwarna merah. Mereka berkeliling dengan memegang obor dan membacakan ayat-ayat yang tidak sama sekali aku mengerti.
Jack berjalan menghampiriku, dan membawa buku besar yang sama persis dengan buku yang dibacakan saat perjanjian ayahku dengannya dulu. Dia membacakan sebuah ayat dengan suara yang menggelegar keras sehingga aku pun menangis karena ketakutan saat itu. Betapa kesihannya diriku ketika aku lahir kedunia aku akan dijadikan tumbal kepada dewa dukun sialan tersebut.
Langit tiba-tiba menjadi gelap dan petir mulai menyambar salah satu pohon disekitar. Sepertinya ritual tersebut sudah dimulai dan dewa mereka sudah datang untuk memasuki tubuhku yang mungil saat itu. Angin mulai bertiup kencang, beberapa obor mati karena tertiup oleh angin, bahkan Jack yang sedang membaca buku tersebut pun terpental jatuh karena angin.
Sesuatu yang amat besar pun merasuki tubuhku, sepintas hanya seperti kabut hitam yang menggumpal seperti sebuah angin besar yang berputar dan masuk melalui mulutku yang kecil itu. Semua yang berdiri disekitarku pun terpental jauh termasuk Jack yang sudah menahan dirinya dengan memegang batang pohon pun tak kuasa untuk melawan arus angin yang kencang. Suara tangisanku terpecah kencang dan secara tiba-tiba suara tangin itu berubah menjadi suara auman besar dari makhluk aneh. Iblis itu sudah masuk kedalam diriku.
“Apa yang kau telah bacakan Jack?.” Tanya Lewis sambil menahan dirinya di batang pohon yang cukup kuat.
“Aku tidak tahu, aku membaca apa yang telah kau tulis dibuku ini.” Jack menjawab nya.
“Bodoh!.”
“Apa maksudmu, ini adalah hal yang bagus untuk umat kita kan?.” Dengan sombongnya dan rasa angkuhnya, Jack merasa benar dengan apa yang telah dilakukannya.
“Tulisan yang aku buat itu adalah tulisan untuk membangkitkan dewa penghancur!.”
“Apa yang akan dia lakukan?.”
“Dia akan menghancurkan kaum-kaum yang melakukan kejahatan untuk menemaninya dineraka, termasuk kita!.” Lewis semakin teriak kesakitan karena ternyata ada satu dahan pohon menusuk kedalam perutnya.
“Bagaimana menghancurkannya?.”
“Hanya aku dan jodoh anak itu kelak nanti!.” Seketika Lewis pun menghembuskan hafas terakhirnya, dan melepaskan genggamannya dari pohon besar yang dia pegang.
Angin pun berhenti dengan seketika, dan semua dukun pun tewas tertusuk dahan pohon, tertimpa bangunan rumah, ataupun terbakar karena obor yang mereka hidupkan, kecuali Jack yang terpental jauh dari tempat ritual tadi.
Jack berjalan kesakitan menghampiri aku, sambil menahan luka yang cukup parah di bahunya dan diwajahnya. Hampir saja dia mati, tapi entah kenapa dia masih dapat bertahan hidup, keberuntungannya saat itu membuat dia bisa kembali bertahan. “Bodoh, kenapa situa menuliskan hal tersebut dibuku itu.” Hati Jack merasa kesal atas apa yang telah dilakukan oleh Lewis, namun sebenarnya karena sifat keangkuhannya lah yang hampir membunuh dirinya sendiri.
****
Aku telah menjadi manusia setengah iblis saat itu. Aku dijadikan sebagai perantara antara kehidupan dan kesengsaraan. Aku tak bisa memilih yang lain, selain aku akan membalas dendam atas semua yang telah menimpa diriku, dan aku bersumpah untuk selalu menghancurkan kaum penggangu kehidupan manusia sesuai dengan kemauan iblis yang ada dalam tubuh ku ini. Kalian merupakan bagian darinya? Matilah ditanganku!.

Jumat, 28 Februari 2014

The Deal of a Cowboy - Death of Jack Loarde 1#


-Kematian Jack Loarde-
Seperti sebuah tirai dari kain berwarna merah menutupi lelaki yang sedang jongkong melihat kearah perapian. Ternyata satu hal yang dipikirkan olehnya adalah kedatangan saya disini bukan untuk membantu masalah, sepertinya kedatangan saya sangatlah menjadi bencana dipikirannya. “Masihkah kau memikirkan dirinya, Jack?.” Aku mencoba menyapanya seolah-olah saya peduli dengan dirinya. Namun matanya hanya menatapku dengan kebencian. Mata yang aku lihat sama persis saat ayah mentertawakannya sambil di saloon. Saat itu aku masih berada dalam kandungan ibuku, dan saat itu ibuku sudah tidak menjahit ditempat kelahirannya.
Kesalahan Jack saat itu adalah melanggar kontrak bersama ayahku.
The Deal of Cowboy adalah salah satu perjanjian ayahku bersama Jack Loarde tentang wilayah kekuasaan perdagangan dan wilayah kekuasaan pertanian di daratan Amerika. Disamping itupun, ada salah satu perjanjian rahasia diantara mereka berdua, mereka menyebutnya Secret of Satanism Voodoo. Rahasia itu terbongkar oleh ku, karena aku yang menjadi sasaran mereka.
Ayahku bukan lah orang yang jahat. Ibuku pula bukan salah satu dari penganut ajaran menyesatkan. Hal-hal yang terbayangkan sebelumnya itu sangat jauh dari kehidupan keluarga ku. Ayah seorang pengusaha pertanian didaratan Amerika, yaitu Santa Fe, dan ibuku adalah seorang penjahit pakaian di Vegas, entah bagaimana mereka bertemu, aku selalu bersyukur terhadap kesucian cinta mereka.
Ayahku bertemu dengan seorang Jack Loarde disaat ayahku memanen jagung di beberapa hektar lahan pertaniannya, dan saat itu Jack sedang berdiri dengan menggunakan kerudung hitam ala Voodoo setempat. Ayahku menghampirinya dan ketika ayahku hampir dekat dengannya, sebuah ilusi hitam tiba-tiba menyelimuti penglihatannya dan hanya ada satu titik cahaya merah memancing ayahku untuk mengikutinya. Ternyata cahaya itu menuntun ayahku kedalam suatu kampung para dukun yang keseluruhan adalah para pemuja setan dan sangat jauh dari kehidupan manusia biasa.
“Dawson.......” Suara aneh terdengar disekeliling pendengaran ayahku.
“Siapa kau? Apa mau mu?.”
“Kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini.”
“Tampakan dirimu, apa mau mu?.” Ayahku menempelkan kedua telapak tangannya ke kepalanya yang tengah pusing menahan suara yang cukup keras, suara yang entah datang dari arah mana.
Tiba-tiba seseorang yang memakai kerudung hitam tadi muncul didepan wajah ayahku dan langsung mencekik ayahku hingga sesekalinya ia batuk dengan keras.
“Aku adalah Jack Loarde, kepala suku ditempat ini, apa mau ku? Apa mau mu didunia! Hahaha.”
Ayahku terus merasa kesakitan karena cekikannya yang cukup mencengkram kuat. “Apa mau mu? Katakan.”
“Serahkan sebagian lahan pertanian mu dan aku akan membebaskan warga mu dengan kutukan-kutukan yang kami buat.” Jack loarde mulai melepaskan cekikan kepada ayahku. Kemudian ayahku tersentak dan batuk dengan keras, hampir saja dia mati karena sesak pada pernafasannya.
“Apapun itu, aku akan berkorban untuk warga ku. Cepat lakukan.”
“Aku akan melakukan suatu perjanjian kepada mu, setengah dari lahan perkebunan mu akan aku jadikan perkampungan kami, dan kami berjanji tidak akan mengusik kehidupan kalian, manusia polos. Hahahaha!.”
Kemudian berjalan seorang laki-laki membawa buku tua yang terbuat dari kulit kayu dan akar pohon. Dia membuka buku tersebut dan berisi tulisan-tulisan yang tidak sama sekali ayahku mengerti. Tulisan tersebut seperti tulisan-tulisan kuno dan hanya dimengerti oleh penganut dan penulisnya saja, tetapi ayahku mengerti apa yang akan dilakukannya, semua demi kebebasan kaum manusia yang tidak berdosa. Kemudian ayahku digenggam kedua tangannya oleh laki-laki berjubah tersebut dan dihadapkan kepada buku itu. Jack mengambil pedang panjang yang cukup tajam dan bisa saja dia menebas kepala ayahku dengan cepatnya, namun yang hanya dia lakukan adalah mengambil sedikit darah dari tangan ayahku san meneteskannya ke buku tersebut. Perjanjian dimulai.
Sayup-sayup nada berkumandang dari kerumunan orang-orang yang tidak dikenal, mungkin suatu ayat-ayat ritual yang bisa membangunkan suatu hal yang astral. Semakin ayat-ayat itu dikumandangkan, ayahku semakin takkuasa untuk berteriak kesakitan. Hingga dia terkapar pingsan.
***
Hari itu orang-orang merasa aneh dengan adanya dukun disekeliling rumahnya, dan mereka semua heran dengan apa yang telah terjadi didaerah pertaniannya. Para petani pun banyak yang mengunjungi rumah ku dan bertanya kepada ayahku tentang apa yang telah terjadi belakangan itu. “Apa yang kau lakukan dengan daerah pertanian mu? Apa kau menjual nya kepada para dukun itu?.” Seorang petani tua sambil memegang garpu bertanya dengan nada yang cukup keras. Namun ayahku hanya terdiam membisu dan dia malah berjalan keluar sambil menghisap sebatang cerutu di bibirnya. “Apa yang telah terjadi Dawson? Mengapa mereka hidup disekitar kita?.” Petani itu semakin mengancam kedapa ayahku.
“Kau akan selamat oleh ku, dan berterimakasih kepadaku.”
“Apa maksud mu? Aku merasa terusik dengan adanya mereka diperkampungan kita.”
Kemudian ayahku menceritakan segala hal yang telah terjadi dan menimpa secara tidak langsung terhadap wilayah pertaniannya.
            Satu tahun kemudian setelah kejadian tersebut terjadi, bau busuk dari bakai-bangkai hewan sangat tercium tajam disekitar perkampungan itu. Orang-orang semakin merasa tersiksa dengan tingkah para dukun itu yang sangat merasahkan warga.
“Apa kau tidak merasa kasihan kepada rakyat mu?.”
“Tenang istriku, aku akan menjaga mereka dan aku percaya kepada mereka, buktinya aku tidak melihat jatuhnya korban dari ulah mereka.”
Saat itu aku sedang terkandung dalam rahim ibuku.
“Bagaimana kandungan mu? Aku sudah tidak sabar merawatnya.” Ayahku tersenyum sambil memegang perut ibuku.
“Aku harap anak kita ini tidak merasakan kesengsaraan kita ini.” Ibu ku langsung bergegas menuju kamar.
Ayah pergi keluar, berkeliling kedaerah pertaniannya, sesekali dia melihat orang-orang yang sedang berkumpul di saloon. Sahut warga mengajak ayah untuk minum, tetapi entah kenapa dia tidak ingin untuk melakukan hal tersebut seperti biasanya, dia hanya tersenyum dan melambaikan tangannya, kemudian dia melanjutkan perjalanannya entah kemana dia akan menuju.
Ternyata dia menghampiri perkampungan para dukun tersebut, mungkin dia ingin tahu apa yang terjadi akhir-akhir itu. Dia merasakan apa yang diresahkan oleh warganya, dan merasa mu;lai terusik dikehidupannya yang dulu pernah merasa berjaya. Semenjak orang-orang merasa tersiksa, batin nya terasa sakit sebagai pemimpin kampung dia bersalah telah melakukan perjanjian tersebut, seharusnya ia tidak menerima perjanjian itu dan lebih baik dia yang menjadi korban.
Bau bangkai mulai enusuk kehidung, entah bau apa yang tercium sepertinya bukan dari bau daging hewan karena ayahku sangat mengerti tentang dunia flora dan fauna. Semakinlah dia bersemangat untuk mencari tahu, dan dibuka lah gerbang yang terbuat dari kayu kering yang digabungkan dengan akar-akar serabut. “kreeeeek....” suara pintu itu terdengar keras, tetapi tidak ada satu dukun pun yang melihat kedatangan ayahku kesana. Hanyalah satu gubuk reot yang dilihatnya, mungkin saja itu tempat tinggal mereka, atau mungkin tempat mereka melakukan suatu ritual kecil tentang praktikan kedukunannya. Ayahku menghampiri kearah gubuk reot tersebut, dan ternyata bau bangkai tersebut berasal dari tempat itu, segeralah ayahku membuka pintu namun pintu tersebut terkunci rapat-rapat dari dalam, ayahku semakin penasaran dengan apa yang telah terjadi didalam gubuk tersebut.
Apapun caranya, rasa penasaran ayahku semakin memuncak dan satu-satu nya cara adalah mendobrak pintu tersebut, tanpa berfikir panjang dia langsung mendorong pintu itu dengan sepatu boots nya, tapi entah kenapa pintu itu sulit sekali didobraknya dan bau tersebut semakin tercium tajam dihidungnya. Kemudian dia mengambil batu besar yang berada tergeletak dibelakangnya, diayunkannya batu tersebut kearah pintu tersebut, seketika pintu tersebut langsung hancur dan berlubang. Bau mulai terasa lebih menusuk kedalam hidung, ayahku langsung berlari kedalam dan kemudian ayahku berlutut sedih kearah apa yang dilihat dihadapannya, bangkai dari beberapa petani jagung berlumuran darah dan penuh dengan belatung menggerogotinya. Sekitar lima jasad petani telah dimutilasi dibagian perutnya, entah apa maksud sipembunuh untuk mengambil isi perut dari para petani tersebut. “toloooong......Dawson” suara itu membangkitkan ayahku dari gubuk itu dan bergegaslah dia menuju keluar.
Ternyata penyihir itu membohongi ayahku dengan melanggar perjanjian yang telah dibuat, semua warga di perkebunan menjadi korban para dukun, semua hampir menjadi korban. Ayahku mulai gencar mencari ibuku yang tengah hamil tua, dia tidak bisa meninggalkan ibuku yang sedang mengandung diriku sendirian dirumah.
Berlarilah dengan kencang ayahku kearah rumah, disana sudah porak poranda dan sudah banyak sekali korban berjatuhan disekeliling perkampungan. Ibuku sudah tidak ada dirumah, perasaan ayahku sangatlah khawatir dengan keadaannya. Saat ayahku berlari didekat saloon tempat ayahku bersama teman-temannya minum, Jack tiba-tiba menikam ayahku dari belakang dan memukulkan kayu kepundak ayahku sampai ayahku seketika pingsan.
“Kau manusia lemah Dawson, lihat daerah dan teman-teman mu? Hanya hitungan beberapa tahun sudah aku taklukan!.” Jack Loarde berkata sambil mengikat ayahku di Saloon.
“Hahaha...”
“Kau sangatlah konyol Dawson, perjanjian dengan iblis tidak selalu benar, apa peduli kami dengan sebuah perjanjian? Tidak ada sama sekali.”
“Sudah puas? Kami sudah merasakan kesejahteraan hidup, dan aku tidak pernah melihat kesejahteraan seperti itu pada kaum iblis seperti mu. Bodoh, menamatkan kaum kami hanya mendekatkan kami kepada surga.” Ayah terlihat menantang dan sambil menyunggingkan senyumannya.
“Sudah cukup puas kah?.”
****
Ayahku tewas dengan tusukan pedang di tenggorokannya, para iblis tersebut berkeliaran dan membakar perkampungan kami. Semua sudah seperti bahan bakar pada tungku kompor yang membara, kepuasan para dukun iblis tersebut sangatlah terpancarkan diwajah jahatnya. Perkebunan sudah tidak subur kembali seperti dulu, awanpun tidak sama sekali merasakan keceriaan kembali saat musim panas saat itu. Tempat kecil milik warga kami telah punah oleh para dukun itu.
Mungkin jika aku besar nanti aku tidak akan merasakan betapa bahagianya kehidupan dizaman ayahku waktu dulu, dan bagaimana lezatnya minuman di saloon itu.

Introduction - "The Deal of a Cowboy"


Menjadi manusia itu sebuah anugerah yang kuasa, itu mutlak. Tak pernah terpikirkan sedikit pun tentang bagaimana hidup saya berubah. Kuasa mereka yang belum aku mengerti mengapa aku begini. Keluarga yang tergolong dalam ke-anti sosialan itu mendorong aku untuk menjadi manusia yang berbeda dari yang lain, hingga mereka punah.