Kamis, 17 April 2014

Kenapa Tiba-Tiba CASUAL, HOOLIGAN, ULTRAS, dan ACAB?


The phenomenon of
CASUAL, HOOLIGAN, ULTRAS, and ACAB
Berbicara tentang zaman itu ga akan selesai sampai kapan pun, sampai lo baca blog ini tujuh puluh tahun juga ga akan ada ujungnya. Tapi hal tersebut bisa di sekat dengan beberapa point-point yang ada dalam dunia zaman ke-zaman ini. Beberapa tahun lalu contoh ketika era80’an dimana musik menjadi perioritas pertama dalam gaya hidup, misalnya dalam pembentukan celana cut bray atau baggy jeans dengan gaya hip hop yang boleh dibilang oldskool di era sekarang. Tapi itu semua sudah lekang oleh jaman, orang-orang yang perna memakai life style seperti itu mungkin telah terbang kemana, peduli setan!. Banyak sekali life style di era yang sudah lewat dahulu, gue juga kalau disuruh buat mengurutkan juga ga akan hapal, tapi ini mungkin bisa menjadi suatu pembahasan yang berpoint memperbaiki idealisme dalam zaman dan life style tersebut.
Tahun 2002-2005 sepak bola hanya di minati oleh orang-orang tua saat itu, tidak banyak anak-anak remaja yang menggemari nya, mungkin karena faktor waktu yang berbeda dimana siaran langsung pertandingan bola tersebut berbeda dengan waktu di Indonesia, jadi dulu anak-anak remaja masih dikelonin setelah sinetron Tersanjung selesai. Akan tetapi setelah zaman terbaharui, dan segala nya pun sudah semakin canggih, tahun 2005-2009 penggemar sepak bola sudah mulai merambah ke berbagai kalangan, dari dulu yang bilang “apaan pertandingan bola, bola satu direbutin sama dua puluh dua orang, ribet”, tapi nyatanya Fuckoof!!! Mereka yang berkata seperti itu menjadi seorang yang tiba-tiba fanatik dengan sepak bola. Sehingga dari tahun 2009- sekarang atau selanjutnya, perkembangan sepak bola menjadi semakin menanjak. Anak-anak remaja yang dulu cuma bisa mendengarkan lagu di handphone China yang mereka anggap itu mewah, dengan fitur pemutar musik yang volume nya melebihi besar bentuk hape nya dan sehari-hari mendengarkan lagu dari ST12, Wali, sampai kangen band, kini telah berubah menjadi seseorang pengkoleksi jersey sepakbola. Its True, yeah? Realize!
Saat gue ngongkrong sambil berkumpul disatu tempat minum beer di Bogor, gue saat itu sedang bercengkrama dengan orang-orang yang suka sekali dengan sepak bola, padahal mereka ga bisa main bola, yah termasuk saya. Saat itu teman gue, panggil saja Japra, dia mengaku dirinya sebagai seorang skinhead yang tergolong dalam student class skin, entah apa maksudnya, tapi itu adalah gaya hidup nya sekarang, dengan memakai jaket Bomber Jet dan celana Ratty Jeans dan tatanan rambut pelontos doi menerangkan tentang life style di kota Bogor ini, kota ditempat kami berdua tinggal, keadaan anak muda di Bogor sedang berada dalam keanehan tentang bagaimana supporter bola di Inggris/Italy atau negara lain dipakai life style nya oleh mereka dan sering kali disalah artikan dalam kehidupan sehari-hari.
 Para Hooligan dan gaya mereka bertarung dan bergaya Casual

1.
Pertama tentang apa definisi Hooligan. Menurut si Japra, si anak skinhead itu, dia berkata “Hooligan dalam kehidupan di britania raya itu sebutan untuk orang-orang yang berada ditaraf sosial bawah, atau bisa disebut dengan preman dan kumpulan orang-orang yang selalu melakukan vandalisme.” Ujar si Japra sambil memutar katup pada tower beer. Mungkin bisa didefinisikan bahwa Hooligan tersebut adalah panggilan sekumpulan orang-orang yang melakukan aktivitas buruk. Tetapi pada saat itu, si Japra, merupakan seorang yang mendukung tim dari Inggris: West Ham United, namun dia tidak ingin dibilang dirinya sebagai seorang Hooligan. “Gue bukan Hooligan, seperti orang-orang di Bogor sekarang inginkan, mereka engga ngerti antara Hooligan dan Ultras yang terkadang mereka menggabungkan kedua idealisme tersebut.” Ujar si Japra semakin tegas. Oh iya, saat itu kita sedang merayakan ulang tahun sepupu gue, dia pun seorang penggemar Liverpool seperti gue, dan kami sedang berpesta malam itu. Kembali ke si Japra, si Japra berkata seperti itu seolah-olah dia mencibir bagai mana anak-anak muda di Bogor dengan kehidupan life style nya yang ingin dibilang dirinya sebagai Hooligan/Ultras yang akhirnya mereka menggabungkan kedua tersebut dengan kata Casual. Jika dipaparkan secara verbal, dan harfiah, Casual tersebut adalah sebuah gaya atau bentuk fashion, buka identik dengan kekerasan yang sering mereka agung-agung kan. “Inggris memang rata-rata bergaya casual karena menyesuaikan daerahnya yang suhu nya dingin banget” kata si Japra lagi, dia pun menerangkan tentang Casual tersebut menjadi trend dalam persepakbolaan. Namun sebelum si Japra menerangkan tentang Casual, gue pun ikut turut bicara tentang hal tersebut.
Menurut gue, Casual tersebut memang gaya kehidupan mereka yang selalu memakai pakaian tebal dan tertutup rapi, namun disamping itu pun, saat kejadian Heysel Disaster kala Liverpool bertandang ke markas Juventus saat piala Eropa, dan adanya keributan dari kedua supporter sehingga mencoreng nama baik Inggris dalam dunia persepakbolaan. Supporter Inggris mendapatkan skorsing tidak bisa menonton pertandingan club masing-masing di luar willayah negara, dan saat itu supporter Liverpool menjadi sasaran amuk para supporter Inggris lainnya. Kemudian saat skorsing berlangsung, antusias para supporter Inggris untuk melihat club nya bertanding tidak sama sekali lekang, mereka mencari cara untuk bagaimana bisa melihat langsung pertandingan di lapangan, dan akhirnya salah saru cara adalah dengan melakukan penyamaran sebagai orang-orang yang tidak terlibat dengan kerusuhan dan menyamar menjadi orang-orang kaya dengan cara merampok beberapa toko pakaian eksekutif yang ada disekitar mereka untuk dijadikan bahan penyamaran, terbentuklah fashion Casual dalam persepakbolaan.
Kembali dengan point-point penting pembahasan, hari itu sudah sangat malam, kami masih tetap saja berbincang-bincang tentang Hooligan, Casual, dan Ultras, walaupun salah satu dari kami sudah tidak kuat untuk meneguh kembali beer yang masih terisi penuh dalam gelas, hahah!. But we are better than satnite force self to drunk and disturb the people.
                                          Ultras dengan gaya nya yang keras

Ultras, adalah sebutan untuk mereka supporter fanatik sepakbola di ranah negeri Pizza (Italy). Ultras identik dengan kekerasan, dan tidak jauh pula dengan Hooligan, namun beda nya, Ultras langsung terjun langsung dengan pertempuran mulai dari melawan supporter musuh, melawan polisi, sampai membajak kendaraan-kendaraan untuk ditumpangi. Bedanya dengan Hooligan, Ultras lebih kedalam kekerasan nya, sedangkan Hooligan lebih kedalam modern football, sehingga timbul perselisihan antara mereka dengan adanya selogan yang dibuat oleh kalangan Ultras, yaitu “Againts Modern Football”, sebenarnya bukan berarti mereka melawan langsung dengan idealisme para Hooligan, tetapi lebih kedalam ke-klasikan peraturan dalam permainan sehingga tidak terjadi unfair dalam pertandingan. Berbeda dengan Britania yang sudah tehanyut dalam kelas Modern Football. Terkadang kedua aspek tersebut: Hooligan – Ultras berbeda namun tetap sama dalam satu jalur tujuan, yaiutu mencari eksistensi dalam club nya dan menjadikan club nya sebagai raja sepakbola dunia.
Pada intinya, idealisme dari kedua aspek tersebut adalah sebuah perkumpulan paham yang fanatik dengan dunia sepakbola, yang mendukung clubnya masing masih untuk menjadi raja di persepakbolaan dunia dengan cara mereka masing-masing yang tentunya berbeda satu sama lain dalam sisitem yang mereka anut.


Namun ini lah inti nya anak-anak remaja yang mulai berada di era transisi diri sering menjadikan paham tersebut sebagai life style, mereka pikir bahwa semakin mereka berdandan seperti Ultras/Hooligan, mereka akan semakin sangar untuk disegani, tetapi itu semua tidak sama sekali sama dengan sumber idealisme tersebut. Sebagai contoh, anak-anak sekolah berangkat dengan menggunakan jaket parka dan sepatu sport casual yang mencirikan dia adalah Hooligan/Ultras dan dijadikan untuk karakter pribadi untuk dipamerkan kepada khalayak ramai, padahal di sumbernya sendiri, para Hooligan/Ultras tidak sama sekali ingin disorot oleh public, bahkan dirinya tidak ingin disebut sebagai seorang Hooligan/Ultras. Ataupun contoh nya tentang fenomena ACAB (All Cops Are Bastard) tentang bagaimana Hooligan/Ultras selalu melawan aparat untuk melakukan operasi nya, namun disini sangatlah jauh berbeda, anak-anak disini memahami ACAB untuk bergaya bahwa mereka anti dengan aparat, padahal aparat di Indonesia tidak mengerti sama sekali maksud dari ACAB itu sendiri, karena tidak ada masalah dengan anak-anak muda yang tiba-tiba anti dengan aparatur negara.

                                      para Ultras melawan polisi dijalanan


Terkadang arus Globalisasi terlau membuat remaja-remaja terlena dengan apa yang ada disekitarnya, mungkin boleh dibilang “enggak tau diri”. INI INDONESIA BUKAN ITALIA ATAU BRITANIA. RAYA. JADI GAUSAH SEGALA CASUAL DEH, BIKIN GERAH DOANG, KAN DISANA TUH EMANG SUHU NYA DINGIN.
Setelah perbincangan kami puas untuk mengkritik tentang keadaan anak muda disekitar lingkungan kami (Bogor, Indonesia), kami pun pulang dengan puas dan selalu mentertawakan mereka yang masih berprinsip “Makin Casual makin Hooligan/Ultras men!!!” hahah BULSHIT!!!

Rabu, 16 April 2014

ARTWORK - Youth and Dangerous




Youth and Dangerous
Artwork tool :
Pen 03, 005, 05, 02
on Paper A4



A filosophy about
how young people look fierce and wild, they build a dynasty for a change and destroy everything that they consider intrusive. do not want to be regulated by the rules and always want to be free, and would not listen to parents talk about his character that he considered it a good

Jumat, 04 April 2014

An Essay of Natural Slection {(UNFAIR)}

Natural Selection
Sudah bukti nyata bahwa seleksi membuat elemen yang terkecil selalu kalah dengan yang besar. Menjadikan kekuatan yang lemah menjadi lemah, dan yang kuat menjadi kuat. Tidak begitu mudah untuk manusia melewati hal tersebut, selalu saja ada tantangan, halangan, dan hantaman dari musuh lainnya. Bahkan seorang ilmuwan pun harus berfikir beribu-ribu kali tentang hipotesis tersebut, seperti hal nya Darwin dengan bukunya, ataupun dengan ilmuwan yang membuktikan tentang peradaban masa lampau. Hipotesis tersebut gue llustrasikan dalam gambar yang gue buat, tentang Seleksi Alam yang nyata tentang bagaimana proses kehidupan berlangsung. Bagaimana seorang manusia yang besar dapat merusak tulang belulang musuhnya yang terlihat kecil, ataupun seekor Singa, sang raja hutan yang bisa menjadikan budak nya seperti debu dari tulang yang dihancurkan.
Semua seperti ketidak adilan, dari semut yang kecil dan berusaha hidup bersosialitas namun tetap saja hanya dengan siraman air dan tiupan angin mereka bisa hancur begitu saja oleh makhluk yang lebih besar dari mereka. Ketidak adilan tersebut tidak bisa lepas dari norma yang berlaku. Namun mungkinkah adanya peraturan tersebut, selain dari peraturan nurani yang ada. Hal itupun mengandung makna silogsme yang penting untuk kehidupan sosial, dan semua aspek-aspek hipotesis mengandung silogisme lain dengan hipotesis lainnya.
Natural Selection sama seperti ketidak adilan yang dibenarkan, tak pernah kah kalian melihat para kaum bangsawan selalu memperbudakan orang-orang miskin, ataupun mereka yang memiliki tahta selalu menjadikan kesengsaraan terhadap orang miskin adalah sebuah kesenangan bagi mereka. Seorang Raja selalu benar dan semua harus tunduk terhadapnya, bukankah hal tersebut adalah ketidak adilan yang nyata, ataupun seorang putri raja yang tidak boleh bergaul dengan berandalan kota yang selalu dipandang sebelah mata oleh penduduk kursi parlemen. Padahal jika kalian mengerti tentang sistem kedudukan di bidang Religion, manusia dengan manusia lainnya adalah insan yang sederajat, hanya yang membedakan adalah keimanan mereka. Itu yang akan menjadi pembahasan yang nyata dari topik tentang Natural Selection ini.
Mungkin hal tersebut sudah ditakdirkan oleh garis kehidupan Timeline, sudah tidak bisa dihapuskan lagi. Alam memang selalu memiliki sifat yang khas yaitu selalu memiliki sifat timbal balik apa yang telah diberikan kepada mereka, mereka pun akan memberikan sesuatu yang setimpal pula terhadap apa yang telah mereka dapat. Sama dengan apa yang ditakdirkan dengan kehidupan, selalu terjadi sama dengan apa yang terjadi dalam past and future, selalu berkesinambungan dan tidak akan pernah putus sampai terhenti di satu titik ujung.
Mereka yang merasa dirinya besar akan percaya diri untuk melawan sesuatu yang ingin dia hancurkan, mereka yang merasa kecil akan takut terhadap mereka yang merasa besar, maka dari itu banyak sekali seseorang yang merasa dirinya sudah mapan selalu ingin meraih sesuatu yang lebih tinggi namun pada akhirnya mereka terjatuh dan sakit, ataupun mereka yang merasa dirinya kecil dan remeh didunia ini selalu menengadahkan tangan kepada orang-orang yang dianggap mereka besar dan mengharapkan belas kasih dari mereka. Itu semua percuma mereka lakukan jika kedua hal tersebut saling terputus. Apa salahnya jika seseorang yang merasa dirinya besar itu memanfaatkan orang kecil untuk bekerja sama dengan mereka dan menggapai bersama-sama mimpi tinggi mereka tersebut, semua akan lebih kondusif dan tidak ada rasa status sosial yang tinggi ataupun rendah.
Tidak semua orang mempercayai hipotesis yang gue buat ini, semua hanya mengharapkan lebih dari yang mereka dapat dan tidak pernah melihat sekeliling nya yang sedang berjuang dalam kehidupan yang vhana ini, membuat mereka yang kuat dapat dengan mudah menyingkirakan yang kecil dihadapan mereka. Coba lihat sekeliling kalian yang tidak pernah memperhatikan lingkungannya, contohnya sebuah rumah besar dan mewah membuang sampah rumah tangga nya ketempat kumuh dan banyak orang-orang miskin tinggal di tempat kumuh tersebut untuk mendapatkan sisa-sisa dari limbah dari orang yang memiliki kehidupan mewah.
***
Maka dari itu, sebelum dunia ini hanya menjadi dedaunan yang runtuh dan kita menjadi anai-anai yang terbang dan mati, kita harus menghancurkan sistem yang kita pikirkan itu dan rubah menjadi yang lebih baik dari sebelumnya. Untuk mereka yang merasa dirinya besar dan dapat dengan mudah menjatuhkan mereka yang lemah, hukuman yang setimpal akan terjadi terhadap mereka, bukankah perkara yang mudah untuk menyelesaikan permasalahan tersebut dengan cara saling merangkul satu sama lain untuk melanjutkan kehidupan yang saling berkesinambungan, berhubungan dan saling mendorong satu sama lain agar semua status sosial didunia ini tidak seperti alur kunung yang sulit dan terjal dan penuh dengan lika-liku,sehingga sulit mencari sesuatu yang lurus dan mudah dilewati.

Rabu, 02 April 2014

Koloni Berdasi


            Halaman bumi yang nyata sangat mudah di enyam para pendatang koloni sipit dengan dasi yang menggantung di dada. Baik itu berbentuk tertulis dengan setongkat pena dan seikat kumpulan koran asuransi dan berbagai macam kumpulan kontrak kerja dengan institusi negara Pahit Manis. Untuk sebuah kota yang berlapis polusi udara dan coretan Vandalisme yang membuat koloni ber-idealisme sparatis menghidupkan kawanan Banksy yang membuat Inggris menjadi lebih berpolitik dalam berseni. Dan bagaikan kumpulan sampah-sampah dalam kantong mereka untuk membuat setumpuk batu bata dan berseri rapi gulungan kabel-kabel listrik menjajah bumi dan menghanguskan para awak negeri yang mungkin bisa membangun suasana berbeda jika kawanan berdasi menceritakan akal pikiran nya dari isme-isme dan politik-politik uang mereka sebagaimana pepatah yang melakukan kebijakan untuk berkata setimpal dengan kenyataan ini. Semua mengerti akan kotoran-kotoran dalam koran berdasi itu hanya untuk membangun negara nya dengan mengggunakan sinar lampu dan sepotong ikan salmon segar bernama wasabi atau sekental kecap asin untuk mengingatkan bahwa aku ini bukan menisan asam dalam dunia politik mu.
            Atas nama mereka yang membuat pagi itu lebih suci dari surga. Ataukah mereka yang membuat masalah dengan sepanjang nya meja-meja dan para koloni berayat menerpa dalam secarik kertas dan media elektronik  untuk satu tujuan menindas akan sosialisme  rakyat dalam negeri saat mereka mengerti bahwa aku adalah bukan sekumpulan gajah berjalan dalam semut-semut hitam menghalangi jalan amazon berhantu kepala memancar satu mata dalam ihtidal mereka berkata aku adalah sensorik dalam saraf kehidupan memudahkan segumpal kertas dan kumpulan kartu bersimbolis uang....uang....dan uang.
            Serambi tirai alam surga dalam bilik reruntuhan serpihan didinding neraka mencekam kelam tulisan-tulisan anak negeri dengan memperbudakan tulang-belulang iga dan gulungan argumentasi bahwa mereka adalah pembuat masa depan dalam kecerahan membohongi merah putih dengan segala simbolis-simbolis kepercayaan dalam pagi mulia dan dalam pagi mereka berjalan menggenggam segulungan  kontrak bertutup koper di matahari yang membimbing ceria umat yang berkepribadian kebohongan-kebohongan untuk membangun negeri Pahit Manis untuk simbolis parasitisme atau isme-isme mereka berkata didepan gedung-gedung berlapis anak-anak negeri yang sangat mudah terpancing hanya dari setongkat pena dengan lamaran-lamaran murahan yak sesuai dengan pajak ppn dalam pulsa-pulsa yang sering berkeliaran di media elektronik 20 inci hasil buah tangan manusia matahari dari pagi.
            Indahnya dunia dalam kota kebodongan politisi berkedok puisi secarik kertas yang penuh dengan prostetusi, dengan menggunakan arti kooperatif dan sebuah pengertian bahwa aku ini penjilat harta tahta dan perusak impian pembangunan kota-kota oleh tangan pribumi.
find out : http://spartzartwork.wordpress.com/



Senin, 31 Maret 2014

The Deal of a Cowboy - Kematian Jack Loarde 3#


-
Pagi itu sangat cerah, burung-burung berkicau disekitar rumah dimana aku tinggal sekarang. Seperti biasa dengan pagi yang sangat cerah, aku selalu melihat kearah pohon besar yang berdiri tegak didepan jendela kamar ku. Aku tinggal disatu Asrama tua milik pendeta tua. Saat kejadian yang telah ku alami sewaktu aku kecil, aku berhasil hidup dan dibawa oleh seorang pendeta yang bernama Cristopher Bartney. Bartney adalah lelaki yang baik, dan dia juga memiliki nilai sosial yang tinggi. Saat kejadian dimana aku ditinggalkan oleh keluargaku yang telah punah, Bartney sedang dalam perjalanan menuju Bahamas, yaitu tempat peribadatannya saat itu. Dia melihatku menangis saat itu, berada disekeliling tulang belulang orang yang telah mati dan dalam keadaan sekarat. Aku langsung dibawa olehnya dengan menggunakan mobil. Entah seberama lama aku berada di tempat itu, sebelum Bartney menemukanku, zaman aku terpisah dengan keluargaku tidak ada sama sekali mobil seperti yang Bartney kemudikan untuk membawaku kerumah sakit, dan saat zaman aku lahir pun tidak ada rumah sakit, sehingga berarti aku menangis dan terus menangis selama puluhan tahun disana. Aku pun bingung kenapa aku tidak mati, apa mungkin ada hubungannya dengan iblis yang berada dalam tubuhku ini.
“Hai, Steve.” Seorang suster memanggilku
“Hai, bagaimana pagi ini? Dimana Bartney?.”
“Aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu, Bartney? Aku pikir dia bersamamu.”
Aku pun bergegas keluar dan menuju kearah meja makan yang sudah ada roti dan daging kalkun diatasnya.
Aku melahap makanan yang sudah disediakan.
“Sudah bangun rupanya anak muda ini?.” Bartney menyapaku sambil menutup pintu.
“Hey, darimana saja kau? Bagaimana pencariannya?.”
“Apa kau masih juga mencari Jack?.”
“Hey tuan pendeta suci, kau pasti banyak memiliki teman yang tentunya kenal dengan dukun bodoh itu kan!.” Aku bertanya sambil sedikit bercanda.
“Hahaha... habiskan dulu makanan mu pagi ini. Kau tau apa? Ini Inggris, agama kami cukup kuat disini, sulit aku untuk mencari dukun itu.”
Aku pun terdiam sejenak dan memberhentikan makan ku.
Bergegaslah aku menuju kamar ku, dan aku segera mengambil jaket kulit dan kunci motor ku untuk siap bergergian.
“Apa yang kau cari Steve!.” Suster menyahut sambil mengaduk adonan kue didekat perapian
“Oh ya, aku akan pergi mencari angin segar diluar. Aku akan pulang petang.”
Aku langsung menuju ke gudang dan segera menghidupkan motor ku.
****
Aku sekarang hidup diera modern, walaupun aku lahir dalam dunia kegelapan dan aku pun selalu berkata kepada siapapun bahwa aku bukan anak muda yang berumur tua. Semua teman-temanku adalah para pengendara motor, dan aku termasuk bagian dari mereka. Seperti sebuah persaudaraan pengendara motor besar yang kesehariannya adalah berkumpul disebuah pub di London barat.
Hari itu aku pergi kesana untuk bertemu salah satu teman ku yang asli lahir di Inggris. Aku masih mencari dimana Jack berada, dan aku yakin tangan ku sendiri yang akan membunuhnya, mungkin saja monster yang ada dalam tubuhku ini dapat membantuku.
Daratan Inggris adalah tempat persembunyian yang kurang baik bagi dukun setan seperti Jack, tetapi aku yakin bahwa dimana aku tinggal pasti dia selalu mengikutiku untuk mengusir iblis yang ada didalam tubuhku ini. Inggris memiliki subkultur dan paham religius yang sangat tinggi, mayoritas memiliki agama Kristen yang cukup kuat, namun bukan berarti aku menjadi bagian dari mereka, karena aku adalah iblis dan aku berada dikedua diantara mereka sehingga kehidupan dan kematian ku adalah salah besar.
“Hey Brother, hari yang cukup dingin diluar bukan!.” Jhonny temanku menyapa ku ketika aku masuk kedalam pub yang sudah cukup ramai.
“Aku akan meminta bantuan kepadamu.” Aku pun duduk di kursi didepan bar.
“Tanyakan kepadaku, daratan Inggris sudah aku lalui, apa yang kau inginkan Steve?.”
“Pernahkan kau melihat lelaki tua dan terlihat seperti seorang penjahat?.” Aku mulai bertanya sambil meneguk sebotol beer.
“Maksudmu aku harus mencari laki-laki itu? Kau ingin aku membunuhnya?.”
“Bodoh, dengarkan dulu. Aku selalu dimata-matai oleh lelaki itu, dan dia adalah dukun pemuja setan.”
“Itu hal yang menarik, aku tau dimana tempat para berkumpulnya orang-orang yahudi, dan bahkan orang-orang yang tidak memiliki pegangan religius. Sebelumnya, kau lebih baik bersenang-senang disini dulu, cuaca diluar terlalu dingin.”
“Baiklah, tapi kau janji kau tidak akan mabuk dan akhirnya melupakan janji mu.”
“Hahaha, aku berjanji!.”
Hari itu kami menghabiskan waktu bersenang-senang didalam Pub, menikmati minuman khas negeri ini, menikmati Beer, dan mendengarkan musik Rock n Roll yang sangat energik. Terkadang aku sering lupa waktu jika sedang berkumpul disini, teman-teman ku selalu membuat aku lupa akan waktu dan akupun yakin aku akan aman disini, jauh dari penglihatan dukun sialan itu. Mungkin saat ayahku masih hidup pun dia melakukan hal seperti ini, berkumpul setelah bertani didalam saloon bersama kawan-kawannya, hanya bedanya mereka menunggangi kuda yang tangguh dan aku menunggangi motor ku yang meradang.
Di dalam Pub kami bersenang-senang, sehingga hampir saja aku lupa tentang apa yang akan aku lakukan dihari itu. Besar sekali tekad ku untuk segera menghabisi si dukun sialan itu dengan rasa benci ku tentang apa yang telah diceritakan Bartney saat aku masih kanak-kanak. Beringas lah diriku sudah dan aku segera menuju ketempat dimana Jhonny sedang bermain bola Billiard. Aku sudah tidak bisa menunggu lagi, cuaca diluar semakin buruk dengan hujan yang sangat deras, namun tidak membuat tekad ku hilang begitu saja tertelan oleh derasnya hujan, tetapi tekad ku semakin kuat ketika aku mengingat bagaimana seharusnya aku menjalani dunia ini dengan kebencian.
Aku menepuk pundak Jhonny dan dia pun mengerti apa yang aku maksud, segeralah aku memakai jaket kulit tebal ku dan langsung bergegas keluar tanpa menghiraukan derasnya hujan diluar.
“Kau sangat bersemangat kawan.” Jhonny memujaku dengan tatapan seperti laki-laki sejati.
“Ini akan menjadi petualangan yang sangat menakjubkan.”
“Ini, sebagai laki-laki kau bisa menggunakan ini kawan!.” Jhonny melemparkan sebuah senjata kepadaku.
“Darimana kau dapat?.”
“Polisi saat malam itu mabuk didalam Pub, hahaha.”
“Kau pencuri yang cerdik, ayo!.”
Kami berdua langsung berangkat masing-masing dengan menggunakan motor besar. Jhonny berada didepan ku, dia memimpin perjalananku hari ini. Petir bergemuruh mencoba menjatuhkan tekadku, namun persetan dengan hal itu karena aku adalah iblis, aku adalah manusia yang terlahir dengan kebencian dan selalu hidup tanpa ketakutan.
Dalam perjalanan aku teringat tentang apa yang diceritakan oleh Bartney kepadaku, aku ingat tentang betapa rela dirinya untuk menyelawatkan jiwa ku dari segerombolan dukun itu, membuat aku sekarang rindu akan kasih sayangnya. Jika saja ibu ku ada bersamaku, pasti dia akan melakukan hal sama seperti aku lakukan sekarang, membunuh Jack Loarde.